Saturday, 28 July 2007

TAFSIR AL-QUR'AN GAYA RASUL BARU

(MEMBONGKAR KESESATAN JARINGAN AL-QIYADAH AL-ISLAMIYYAH)
Oleh : Lajnah pembela sunnah dan memerangi bid'ah dan kesyirikan Ahli Sunnah Wal Jama'ah

Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam muqadimah kitab tafsirnya menyatakan tentang kaidah menafsirkan Al-Qur'an. Beliau -rahimahullah- menyampaikan bahwa cara menafsirkan Al-Qur'an adalah sebagai berikut:
1.Menafsirkan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an. Metodologi ini merupakan yang paling shalih (valid) dalam menafsirkan Al-Qur'an.
2.Menafsirkan Al-Qur'an dengan As-Sunnah. Kata beliau -rahmahullah-, bahwa As-Sunnah merupakan pensyarah dan yang menjelaskan tentang menjelaskan tentang Al-Qur'an. Untuk hal ini beliau -rahimahullah- mengutip pernyataan Al-Imam Asy-Syafi'i -rahimahullah- : “Setiap yang dihukumi Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wasallam-, maka pemahamannya berasal dari Al-Qur'an. Allah -Subhanahu wata'ala- berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) membela orang-orang yang khianat.” (An-Nisaa':105)
3.Menafsirkan Al-Qur'an dengan pernyataan para shahabat. Menurut Ibnu Katsir -rahimahullah- : “Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, kami merujuk kepada pernyataan para shahabat, karena mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui sekaligus sebagai saksi dari berbagai fenomena dan situasi yang terjadi, yang secara khusus mereka menyaksikannya. Merekapun adalah orang-orang yang memiliki pemahaman yang sempurna, strata keilmuan yang shahih (valid), perbuatan atau amal yang shaleh tidak membedakan diantara mereka, apakah mereka termasuk kalangan ulama dan tokoh, seperti khalifah Ar-Rasyidin yang empat atau para Imam yang memberi petunjuk, seperti Abdullah bin Mas'ud -radliyallahu anhu-.
4.Menafsirkan Al-Qur'an dengan pemahaman yang dimiliki oleh para Tabi'in (murid-murid para shahabat). Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah atau pernyataan shahabat, maka banyak dari kalangan imam merujuk pernyataan-pernyataan para tabi'in, seperti Mujahid, Said bin Jubeir. Sufyan At-Tsauri berkata : “Jika tafsir itu datang dari Mujahid, maka jadikanlah sebagai pegangan”.
Ibnu Katsir -rahimahullah- pun mengemukakan pula, bahwa menafsirkan Al-Qur'an tanpa didasari sebagaimana yang berasal dari Rasulullah -shallallahu'alaihi wasallam- atau para Salafush Shaleh (para shahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in) adalah haram. Telah disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas -radliyallahu 'anhuma- dari Nabi -shallallahu'alaihi wasallam-:
“Barangsiapa yang berbicara (menafsirkan) tentang Al-Qur'an dengan pemikirannya tentang apa yang dia tidak memiliki pengetahuan, maka bersiaplah menyediakan tempat duduknya di Neraka.” (Dikeluarkan oleh At Tirmidzi, An Nasa'i dan Abu Daud, At Tirmidzi mengatakan : hadist hasan).
Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagai sebuah gerakan dengan pemahaman keagamaan yang sesat, telah menerbitkan sebuah tulisan dengan judul “Tafsir wa Ta'wil”. Tulisan setebal 97 hal + vi disertai dengan satu halaman berisi ikrar yang menjadi pegangan jama'ah Al-Qiyadah Al-Islamiyyah.
Sebagai gerakan keagamaan yang menganut keyakinan datangnya seorang Rasul Allah yang bernama Al-Masih Al-Maw'ud pada masa sekarang ini, mereka melakukan berbagai bentuk penafsiran terhadap Al-Qur'an dengan tanpa kaidah-kaidah penafsiran yang dibenarkan berdasarkan syari'at, ayat-ayat Al-Qur'an dipelintir sedemikian rupa agar bisa digunakan sebagai dalil bagi pemahaman-pemahamannya yang sesat. Sebagai contoh, bagaimana mereka menafsirkan ayat:
“Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera dibawah penilikan dan petunjuk Kami.” (Al-Mu'minuun :27)
Maka, mereka katakan bahwa kapal adalah amtsal (permisalan,ed) dari qiyadah, yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda. Ahli Nuh adalah orang-orang mukmin yang beserta beliau, sedangkan binatang ternak yang dimasukkan berpasang-pasangan adalah perumpamaan dari umat yang mengikuti beliau. Lautan yang dimaksud adalah bangsa Nuh yang musyrik itu..... (lihat tafsir wa ta'wil hal.43).
Demikianlah upaya mereka mempermainkan Al-Qur'an guna kepentingan gerakan sesatnya. Sungguh, seandainya Al-Qur'an yang diturunkan kepada Rasulullah -shallallahu 'alihi wasallam- boleh ditafsirkan secara bebas oleh setiap orang, tanpa mengindahkan kaidah-kaida penafsiran sebagaiman dipahami slaful ummah, maka akan jadi apa islam yang mulia itu ditengah pemeluknya ? Al-Qiyadah Al-Islamiyyah hanya sebuah sample dari sekian banyak aliran/paham yang melecehkan Al-Qur'an dengan cara melakukan interpretasi atau tafsir yang tidak menggunakan ketentuan yang selaras dengan pemahaman yang benar.
Buku Tafsir wa Ta'wil ini berusaha menyeret pembaca kepada pola pikir sesat melalui penafsiran ayat-ayat mutasyabihat menurut versi Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagaimana diungkapkan pada hal. iii poin 4 : “Kegagalan orang-orang memahami Al-Qur'an adalah
mengabaikan gaya bahasa Al-Qur'an yang menggunakan gaya bahasa alegoris. Bahasa simbol untuk menjelaskan suatu fenomena yang abstrak.”
Mutasyabihat dianggap sebagai majazi sebagaimana pada hal. 39 alenia terakhir.
Penyimpangan-penyimpangan yang ditemukan dalam buku ini adalah sebagai berikut:
A.Secara garis besar ayat-ayat mutasyabihat (menurut versi mereka) ialah yang berbicara tentang Hari Kiamat dan Neraka dianggap simbol dari hancurnya struktur tentang penentang Nabi dan Rasul, dan pada masa Rasulullah hancurnya kekuasaan jahiliyyah Quraisy yang dihancurkan oleh Rasul dan para shahabatnya.
Lihat:
1.Tafsir Al-Haqqah:16;21
2.Tafsir ayat 6 dari surat Al-Ma'arij hal 30.
3.Tafsir ayat 17 dari surat Al-Muzammil hal. 62.
B.Pengelompokan manusia menjadi tiga golongan:
1.Ashabul A'raf adalah Assabiqunal awwalun.
2.Ashabul yamin adalah golongan anshar.
3.Ashabul syimal golongan oposisi yang menentang Rasul, lihat hal. 24.
C.Penafsiran Malaikat yang memikul 'Arsy pada surat Al-Haqqah ayat 17 diartikan para ro'in atau mas'ul yang telah tersusun dalam tujuh tingkatan struktur serta kekuasaan massa yang ada dibumi. Lihat hal. 24.
D.Penafsiran (man fis samaa'/siapakah yang ada di langit) dalam surat Al-Mulk ayat 16 diartikan benda-benda angkasa dan pada ayat 17 diartikan yang menguasai langit, menunjukkan bahwa mereka tidak tahu sifat 'uluw/ketinggian Allah atau bahkan mereka mengingkarinya.
E.Penafsiran (As-Saaq/betis) pada surat Al-Qalam ayat 42, dengan dampak dari perasaan takut ketika menghadapi hukuman atau adzab, lihat hal 18, ini menunjukkan bahwa mereka tidak tahu bahwa Allah memiliki betis atau mengingkarinya.
F.Kapal Nuh adalah bahasa mutasyabihat dari Qiyadah yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda ....lihat hal. 42 dan 43.
G.Mengingkari hakekat jin dan diartikan sebagai manusia jin yaitu jenis manusia yang hidupnya tertutup dari pergaulan manusia biasa, yaitu manusia yang mamiliki kemampuan berpikir dan berteknologi yang selalu menjadi pemimpin dalam masyarakat manusia. Golongan jin yang dimaksud pada surat Al-Jin adalah orang-orang Nasrani yang shaleh yang berasal dari utara Arab, lihat tafsir surat Al-Jin hal.16...dst. Dan raja Habsyi yang bernama Negus termasuk golongan manusia jin yang dimaksud dalam Al-Qur'an dalam surat Al-Jin, lihat hal.52.
H.Mengingkari pengambilan persaksian dari anak-anak Adam dialam ruh atas rububiyah Allah yang merupakan penafsiran surat Al-A'raf ayat 173, lihat tafsir surat Al-Insan hal.
85.
I.Menyatakan bahwa penciptaan Adam dan Isa bin Maryam adalah unsur-unsur mineral menjadi kromosom yang kemudian diproses menjadi sperma, lihat hal. 85.
Dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang lainnya.
Selanjutnya melalui buletin ini kami menghimbau kepada seluruh kaum muslimin dimana saja berada untuk senantiasa waspada dan mewaspadai gerakan sesat ini yang menamakan dirinya dengan Al-Qiyadah Al-Islamiyyah, diantara ciri-ciri mereka ialah tidak menegakkan shalat lima waktu, berbicara agama dengan dengan menggunakan logika, mencampuradukan antara Islam dengan Kristen,... dll.
Sumber: Buletin Asy Syariah Juli/1428H/2007M

8 Kado Terindah


Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa menghadiahkannya setiap saat, dan tak perlu membeli! Meski begitu, delapan macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang Anda sayangi.

KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto atau faks. Namun dengan berada disampingnya. kita dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian , dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran mu sebagai pembawa kebahagian.

MENDENGAR
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketehui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya. Ini memudahkan Anda memberi tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.

D I A M
Seperti kata-kata, didalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya "ruang". Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomeli.

KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah, " Kau bebas berbuat semaumu." Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah
memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.

KEINDAHAN
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik ? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado, lho. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap hari! Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana di rumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.

TANGGAPAN POSITIF
Tanpa, sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian dan juga permintaan maaf ), adalah kado cinta yang sering terlupakan.

KESEDIAAN MENGALAH
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado "kesediaan mengalah".
Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut ? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

SENYUMAN
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus asaan. pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi?

4 Macam Teman Palsu

Empat Macam teman palsu :
  1. Mereka yang mengajak berkawan untuk tujuan menipu.
  2. Mereka yang hanya manis di mulut saja.
  3. Mereka yang memuji-muji dan membujuk.
  4. Mereka yang mendorong seseorang untuk menuju ke jalan yang membawa pada kerugian dan kehancuran.
Empat macam orang-orang ini, bukanlah teman-teman sejati; mereka adalah teman-teman palsu, dan seorang janganlah bergaul dengan mereka.

Mereka yang mengajak kawan untuk tujuan menipu mempunyai empat ciri:
  1. Mereka hanya memikirkan tentang apa yang akan mereka peroleh dalam persahabatan dengan kita.
  2. Mereka memberi sedikit dan berpikir bagaimana untuk memperoleh banyak.
  3. Apabila mereka berada di dalam bahaya, mereka akan melakukan hal-hal bagi kita (sehingga memperkokoh persahabatan dan saling melindungi).
  4. Mereka bergaul dengan kita hanya karena mereka tahu bahwa pergaulan itu memberikan keuntungan kepada mereka.
Mereka yang hanya manis dimulut saja mempunyai empat ciri:
  1. Mereka selalu membicarakan hal-hal yang telah lampau dan tidak berguna.
  2. Mereka cenderung membicarakan hal-hal yang belum terjadi.
  3. Mereka membantu mengerjakan hal-hal yang tidak berguna.
  4. Apabila diminta untuk membantu, mereka selalu mengatakan tidak dapat membantu (dengan bermacam-macam alasan untuk menghindari).
Mereka yang memuji-muji dan membujuk, mempunyai empat ciri:
  1. Jika kita berbuat jahat, mereka akan setuju dan membenarkannya.
  2. Jika kita tidak berbuat baik, mereka akan setuju dan membenarkannya.
  3. Di hadapan kita, mereka akan memuji-muji kita.
  4. Di belakang kita, mereka akan mencel kita.
Mereka yang mendorong seseorang untuk menuju ke jalan yang membawa pada kerugian dan kehancuran, mempunyai empat ciri:
  1. Mereka mengajak kita untuk minum-minuman yang memabukkan.
  2. Mereka mengajak kita berkeliaran di malam hari.
  3. Mereka membuat kita melekat untuk mengejar kesenangan-kesenangan.
  4. Mereka membuat kita untuk menjadi seorang penjudi.

Saturday, 21 July 2007

Ajaran Rasul Baru Meresahkan Yogya

Oleh : Al-Ustadz Ayip Syafruddin

“Aku Al-Masih Al-Maw’ud menjadi syahid Allah bagi kalian, orang-orang yang mengimaniku, dan aku telah menjelaskan kepada kalian tentang sunnah-Nya dan rencana-rencana-Nya di dalam hidup dan kehidupan ini sehingga dengan memahami sunnah dan rencana-rencana-Nya itu kalian dapat berjalan dengan pasti di bawah bimbingan-Nya.

Selanjutnya bagi kaum mukmin yang mengimaniku agar menjadi syahid tentang kerasulanku kepada seluruh umat manusia di bumi Allah ini, seperti hal-halnya murid-murid Yesus, tatkala Yesus berbicara kepada murid-muridnya maka murid-muridnya itu segera melaksanakan perintah-perintahnya.” (hal 178)

“Dan aku juga memerintahkan kepada katib agar mempersiapkan sebuah acara di Ummul Qura’ bagi para sahabat untuk menjadi syahid bagi kerasulan Al-Masih Al-Maw’ud, tetapi katib mengusulkan agar acaranya diadakan di Gunung Bunder saja, akupun menyetujuinya, di malam yang ketigapuluh tiga, tiga hari menjelang empat puluh hari aku bertahannuts, kembali aku bermimpi, di dalam mimpi itu aku sedang dilantik atau diangkat menjadi rasul Allah disaksikan para sahabat.” (hal 182)

Kisah di atas dikutip dari buku “Ruhul Qudus yang Turun Kepada Al-Masih Al-Maw’ud” edisi pertama Februari 2007, diberi kata pengantar tertanggal Gunung Bunder, 10 Februari 2007 oleh Michael Muhdats.

Buku tersebut merupakan firman Allah atau ruhul qudus yang diturunkan kepada rasul-Nya. Sebagaimana dinyatakan dalam kata pengantarnya, “Buku yang ada di hadapan saudara ini merupakan firman Allah atau ruhul qudus yang diturunkan kepada rasul-Nya, sehingga isinya tidak perlu kami komentari lagi, agar kesuciannya tidak tercampur atau terpengaruh oleh pendapat kami pribadi.”

Buku tersebut beredar secara khusus di kalangan pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyyah. Sebuah kelompok yang memiliki pemahaman bahwa telah ada seorang rasul yang diutus Allah ke muka bumi pada saat sekarang ini. Pelantikan rasul ini terjadi pada tanggal 23 Juli 2006 di Gunung Bunder (Bogor-Jawa Barat).

Banyak dari kalangan kaum muslimin yang termakan gerakan kelompok ini. Di Yogyakarta, gerakan kelompok ini mulai merambah kalangan kampus dan meresahkan masyarakat. Model gerakannya senyap, tersembunyi, dan berkembang melalui rekrutmen dengan menggunakan pola sistem sel.

Selain meyakini adanya rasul Allah pada masa sekarang ini, yang mereka sebut Al-Masih Al-Maw’ud, mereka pun berkeyakinan bahwa shalat (dikerjakan) hanya pada waktu malam saja. Tidak ada shalat lima waktu sebagaimana kewajiban yang ditunaikan kaum muslimin umumnya. Mereka pun menganggap musyrik orang yang tidak sepaham dengan mereka.

Lafazh syhadatain mereka berbeda dengan yang diucapkan dan diyakini kaum msulimin. Seperti termuat dalam buku di atas, lafazh syahadatain kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyyah ini berbunyi, “Aku bersaksi bahwa tiada yang hak untuk diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa anda Al-Masih Al-Maw’ud adalah utusan Allah”. (hal 191)

Bila seseorang melakukan ibadah tanpa mengikuti rasul setelah Muhammad, yaitu Al-Masih Al-Maw’ud, maka tidak akan diterima ibadahnya. (hal 175)

Keyakinan mereka, bahwa Islam sekarang sudah tidak sempurna lagi. Menurut mereka, Islam yang sempurna adalah Islam yang sudah menzhahirkan dirinya dalam tiga syarat, yaitu hukumnya sudah lengkap, struktur kekuasaan ummatnya sudah ada, serta daar atau negerinya jatuh ke tangan ummat. (hal 166)

Karena itulah, pada tahap pertama programnya adalah pembinaan iman atau aqidah yang fokusnya memberikan peringatan kepada manusia tentang kebangkitan kembali Islam, dan memberi hiburan bagi orang-orang yang mau bertaubat dan menerima kehadirannya, bahwa mereka akan diampuni…” (hal 174)

Al-Masih Al-Maw’ud menyatakan bahwa dirinya banyak menerima wahyu dari Allah saat bertahannuts di Gunung Bunder. Dan kepada para pengikutnya ditekankan agar bersaksi bahwa semua itu adalah kebenaran yang datang dari Allah melaui rasul-Nya. (hal 184)

Namun demikian, apa yang diajarkan oleh kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyyah ini, ternyata tidak semata mengutip ayat-ayat Al-Quran saja. Mereka juga mengajarkan juga paham-paham Kristen, bahkan banyak mengutip dan mendasarkan ajarannya pada Al-Kitab (Injil). Mereka berpemahaman bahwa ajaran yang dibawa Moses, Yesus, dan Ahmad (Nabi Muhammad-penulis) adalah sama karena memiliki sumber ajaran yang sama pula (dari Allah), bahkan kata mereka, di dalam Islam ada konsep trinitas sebagaimana dalam ajaran Kristen.

Demikianlah, mereka mencampuradukkan ajaran. Banyak lagi ajaran-ajaran yang mereka tanamkan kepada para pengikutnya dengan memberikan pemahaman yang menyesatkan. Mereka tidak segan-segan menyatakan, “Sebetulnya ajaran Yesus sama dengan ajaran Islam.”

Melalui tulisan ini, dihimbau kepada kaum muslimin untuk mewaspadai gerakan kelompok ini. Gerakannya masih terselubung menjadikan berbagai pihak menemui kesulitan untuk memantau secara seksama.

Masalah penyebaran paham gerakan ini tidak bisa dianggap sepele sehingga menjadikan kaum muslimin bersikap pasif. Namun, hendaknya berbagai kalangan menyerukan (agar waspada) terhadap kesesatan yang ada, sebagaimana disebutkan di muka, untuk ditangkal. Masyarakat diminta untuk mewaspadai dan jangan sampai terjebak mengikuti pemahaman sesat ini.

Agama ini, yaitu Islam, telah sempurna dan hanya Islam, agama yang diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, pemahaman Islam yang disandarkan kepada Salafush Sahlih akan memberikan dasar kerangka pemahaman agama yang haq (benar), Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Pada hari ini, telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” (Al-Ma’idah : 3)

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali-Imran : 19).

(Sumber: Buletin Asy-Syariah, diterbitkan oleh Yayasan Asy-Syariah Yogyakarta)

Monday, 16 July 2007

Tiga perkara dahsyat di alam kubur

Dikutip dari buku berjudul “Malam Pertama di Alam Kubur” Karya Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Arify, Syaikh 'A'idh bin Abdullah Al-Qorni, dan Syaikh Muhammad bin Husain Ya'qub. Halaman : 129 - 133

Tiga perkara dahsyat di alam kubur yaitu
1. Datangnya makhluk yang menjadi teman dalam kubur.
2. Melihat tempat yang disediakan bagi si mayit, baik surga maupun neraka.
3. Adzab dan nikmat kubur.

Ketiga perkara tersebut memiliki dalil yang rinci dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Imam Ahmad – dalam Musnadnya – dan juga ahlu sunnah, dan disahihkan oleh mayoritas Ulama', termasuk Syaikh Al-Albany dalam Ahkamul Jana'iz dan lainnya, dari Al-Barra' bin 'Azib. Ia berkata,”kami keluar bersama Rasulullah SAW mengantar jenazah seorang anshar.
Ketika sampai di kuburan sebelum dikubur, Rasulullah SAW duduk. Kami pun duduk di sekitarnya, seolah-olah diatas kepala kami ada seekor burung. Di tangan Rasulullah SAW ada kerikil yang dijumputnya dari tanah. Kemudian Rasulullah SAW mengangkat kepalanya dan berkata,”Berlindunglah kepada Allah dari adzab kubur”. Beliau mengucapkannya sebanyak dua atau tiga kali.
“Bila seorang hamba Mukmin berada di ujung dunia menuju gerbang akhirat, malaikat dari langit turun kepadanya. Wajahnya putih bersih, secerah mentari. Mereka membawa kafan dan balsam (agar mayat tidak busuk) yang berasal dari surga. Mereka duduk sangat dekat dengan hamba itu, dan mengucapkan salam. Lalu duduk diatas kepalanya dan berkata,
“wahai jiwa yang suci, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah”. Maka ruhnya pun keluar sebagaimana aliran air yang deras. Lalu malaikat itu mengambil ruhnya”.
Dalam riwayat lain disebutkan,”ketika ruhnya keluar, seluruh malaikat yang ada diantara langit dan bumi serta malaikat yang berada dilangit berdoa untuknya. Lalu dibukakan pintu surga baginya. Seluruh penjaga pintu tersebut memohon kepada Allah agar dipertemukan dengan ruh itu”.
Tetapi ia tak hanya sekejap memegang ruh tersebut. Selanjutnya ditaruh didalam kafan. Dari padanya keluar wewangian paling harum. Itulah yang difirmankan Allah,
“...ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat kami tidak melalaikan kewajibannya”(Al-An'am : 61).
Ruh tersebut keluar dengan keharuman yang belum pernah dijumpai dibumi.
Lalu mereka mengangkat ruh tersebut keatas. Setiap malaikat yang dilalui pasti bertanya,”ruh siapa ini?”. Mereka menjawab,”Fulan bin Fulan”, dengan menyebut nam paling bagus yang pernah dipakai didunia.
Begitulah, sampai mereka tiba dibatas akhir langit dan bumi. Mereka meminta langit berikutnya dibuka, dan dikabulkan. Demikianlah sampai pada langit berikutnya hingga sampai pada langit ketujuh. Allah Azza wa Jalla berfirman,
“Tulislah catatan hamba-Ku ini dalam 'Illiyyin. Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).”
( Al-Muthaffifin : 19-21 ).
Kemudian ditulislah didalam 'Illiyyin. Lalu dikatakan ,”kembalikan ia ke bumi. Sesungguhnya Aku menciptakannya dari bumi (tanah) dan akan Kukembalikan lagi ke bumi (tanah). Dari tanah pula akan Aku keluarkan mereka sekali lagi.”.
Lalu ruh tersebut dikembalikan ke bumi lagi, dan dijodohkan kembali dengan jasadnya.
Beliau melanjutkan sabdanya,”sesungguhnya ia mendengar suara terompah orang yang menguburnya, ketika mereka meninggalkannya, ketika ia ditanya, “siapa Rabbmu, apa agamamu dan siapa nabimu?”.
Dan dalam lafal disebutkan,”Datanglah dua malaikat yang kemudian duduk dihadapannya. Mereka bertanya, “Siapa Rabbmu?” ia berkata,”Rabbku adalah Allah. “Apa agamamu?” ”Agamaku Islam”. Malaikat melanjutkan,”siapa lelaki yang diutus kepadamu ini?” Ia menjawab,”Ia adalah Rasulullah”. “Bagaimana engkau tahu?” “Aku membaca kitab Allah, beriman dan membenarkannya”.
Lalu terdengar seruan dari langit bahwa, “Benarlah hambaku ini. Berikan kasur dan pakaian dari surga, serta bukakan pintu surga. Berilah pakaian darinya dan bukakan pintu baginya”.
Setelah itu dilapangkanlah kuburnya sejauh mata memandang. Datang kepadanya (dalam riwayat lain disebut,”yang menyerupai”) seseorang yang berwajah tampan dengan baju baju yang bagus dan aroma harum. Orang itu berkata, “Berbahagialah dengan kemudahan yang diberikan padamu. Berbahagialah dengan keridhaan Allah dan surga yang penuh dengan kenikmatan abadi. Inilah hari yang dijanjikan padamu”.
Ia berkata kepada orang itu, “Demikian pula denganmu. Semoga Allah menggembirakanmu dengan yang lebih baik. Siapa kamu? Wajahmu tampak bagus”. Dijawab, “Aku amal shalihmu. Engkau selalu bersegera mentaati Allah dan enggan bermaksiat kepada-Nya. Maka Allah mengganjarmu dengan kebaikan”.
Kemudian dibukalah pintu surga dan neraka. Dikatakan, “Inilah tempat bagimu, seandainya engkau bermaksiat kepada Allah. (Tetapi tempat itu) telah Allah gantikan dengan (surga) ini”. Demi melihat tempat di surga tersebut, ia berkata,”Wahai Rabbku, dirikanlah kiamat, hingga aku bisa bertemu dengan keluarga dan hartaku.” Dikatakan padanya, “Tinggallah!”.
“Selanjutnya” sabda nabi,”Ketika orang-orang kafir dan fasik berada diujung dunia dan gerbang akhirat, datanglah malaikat berwajah hitam kepadanya. Ia duduk disebelah sambil terus memelototinya. kemudian datanglah malaikat maut membawa tenunan kasar dan langsung menduduki kepalanya. Malaikat itu berkata,”wahai jiwa kotor, keluarlah menuju amarah dan murka Allah”.
Bergetarlah badannya. Ruhnya dicabut dari badan, sebagaimana dicabutnya bulu wol yang basah dari alat panggang. Seluruh malaikat antar langit dan bumi melaknatnya dan seluruh malaikat langit. Ditutuplah pintu langit. Seluruh penjaga pintu tersebut berdoa kepada Allah agar ruh tersebut jangan didekatkan kepada mereka”.
Dicabutlah nyawanya dan segera ditaruh kedalam tenunan kasar tersebut. Dari tempat itu berhembuslah bau bangkai yang paling busuk didunia. Ruhnya dibawa naik.
Setiap malaikat yang dilalui pasti bertanya,”ruh siapa yang buruk in?”. Dijawab,”Ryh Fulan bin Fulan”, dengan menyebut nama paling buruk yang pernah dipakai didunia. Hingga sampai ujung langit dunia. Malaikat pembawa ruh itu minta dibukakan pintu, dan dikabulkan”. Kemudian Rasulullah membaca ayat,
“Tidak akan dibukakan pintu langit untuk mereka, dan tidak akan masuk surga, sampai seekor unta mampu masuk ke lubang jarum” (Al-A'raf : 40).
Lalu Allah Ta'ala berfirman, “Tulislah catatannya dalam sijjin, didasar bumi yang paling bawah”. Lalu dikatakan,”Kembalikanlah hamba=Ku in ke dunia. sesungguhnya Aku telah berjanji menciptakan dari bumi itu lalu mengembalikannya kepadanya dan mengeluarkannya kembali dari bumi itu pada lain waktu”.
Maka ruhnya dilemparkan begitu saja, sampai bertemu dengan jasadnya kembali.
Kemudian beliau membaca ayat,
“Barangsiapa mempersekutuan sesuatu dengan Allah, mak adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”(Al-Hajj : 31).
Beliau bersabda, “Sesungguhnya ia mendengar suara sandal orang-orang yang meninggalkannya(setelah melayat).
Datanglah dua malaikat yang duduk di sampingnya. mereka bertanya,“Siapa Rabbmu?”. “Ah...ah... aku tidak tahu” jawabnya. “Apa agamamu?” “Ah...ah... aku tidak tahu” jawabnya. ”Siapakah lelaki ini yang pernah diutus kepadamu?” “Ah...ah... aku tidak tahu”. Malaikat berkata,”Engkau tidak pernah tahu dan tidak pernah membaca Al-Qur'an...”.
Terdengarlah suara dari langit, “Hambaku ini seorang pendusta. Sediakanlah baginya kasur dari neraka, dan bukakan pintu neraka”. Ia merasakan panasnya api neraka dan angin panas yang berhembus darinya. Kuburnya pun menyempit, sehingga meremukkan tulang-tulangnya. Lalu datanglah (dalam riwayat lain disebut, “yang menyerupai”) seorang yang buruk rupa dan pakaiannya. Aromanya busuk menyengat. Ia berkata, “berbahagialah dengan perkara yang menyedihkanmu. Inilah hari yang dijanjikan”.
Mayat tadi berkata,”Demikian juga dirimu, semoga Allah menimpakan kejelekan padamu. Siapa dirimu? Wajahmu amat buruk”, Dijawab,”Akulah amalmu yang buruk. Demi Allah, aku tidak mengenalmu selain seorang yang malas untuk taat kepada Allah tetapi giat bermaksiat pada-Nya. Maka Allah mengganjarmu dengan kejelekan”.
Kemudian ia menjadi buta, tuli dan bisu. Ia memegang palu besar, yang seandainya dipukulkan ke gunung, niscaya gunung tersebut luruh menjadi tanah. Ia memukul dirinya dengan palu tersebut, sehingga hancur menjadi tanah.
Lalu Allah mengembalikannya kembali kepada bentuknya semula, dan ia kembali memukul dirinya. Ia menjerit keras, yang dapat didengar semua makhluk kecuali jin dan manusia. Lalu dibukakan baginya pintu neraka dan dihamparkan kasur yang terbuat dari api. Ia berkata, “Duhai Rabbku, jangan Engkau dirikan kiamat”.*
Dikeluarkan oleh Abu Dawud (4753) Al-Hakim (I/38-40), At-Thayalisi(753) dan Ahmad(4/287,288,295,296)serta Al-ajri dalam Asy-Syari'ah(268-270).
Al-Hakim berkata, “(Hadits ini)Shahih atas syarat Syaikhaini”, dan dibenarkan oleh adz-Dzahabi. Dishahihkan pula oleh Ibn Qayyim dalam A'lamu Al-Muwaqqi'in(I/214) dan Tahdzib As-Sunan(4/337). Penshahihannya dinukil dari Abu Nu'aim dan lainnya. Dishahihkan pula oleh Syaikh Al-Albany dalam Ahkamul Jana'iz(200-202) dan Shahih Jami'(676).



Nasehat Kematian Umar bin Abdul Aziz ra.


Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz mengiringi jenazah. Ketika semuanya telah bubar, Umar dan beberapa sahabatnya tidak beranjak dari kubur jenazah tadi. beberapa sahabatnya bertanya, “wahai Amirul Mukminin, ini adalah jenazah yang engkau menjadi walinya. Engkau menungguinya disini lalu akan meninggalkannya”.
Umar berkata, “Ya. Sesungguhnya kuburan ini memanggilku dari belakang. Maukah kalian kuberitahu apa yang ia katakan kepadaku? ”. Mereka menjawab,”Tentu”. Umar berkata,”Kuburan ini memanggilku dan berkata,”Wahai Umar bin Abdul Aziz, maukah kuberitahu apa yang akan kuperbuat dengan orang yang kau cintai ini?” “Tentu” jawabku.
Kuburan itu berkata, “Aku bakar kafannya, kurobek badannya dan kusedot darahnya serta kukunyah dagingnya. Maukah kau kau kuberitahu apa yang kuperbuat dengan anggota badannya?”. “Tentu”, jawabku. “Aku cabut (satu per satu dari) telapak ke tangannya, lalu dari tangannya ke lengan, dan dari lengan menuju pundak. Lalu kucabut pula lutut dari pahanya. Dan paha dari lututnya. Ku cabut pula lutut itu dari betis. Dan dari betis menuju telapak kakinya”.

Lalu Umar bin Abdul Aziz menangis, dan berkata, “Ketahuilah, umur dunia hanya sedikit. Kemuliaan didalamnya adalah kehinaan. Pemudanya akan menjadi renta, dan yang hidup didalamnya akan mati. Celakalah yang tertipu olehnya.
Janganlah kau tertipu oleh dunia. Orang yang tertipu adalah yang tertipu oleh dunia.
Dimanakah penduduk yang membangun suatu kota, membelah sungai-sungainya dan menghiasinya dengan pepohonan, lalu tinggal didalamnya dalam jangka waktu sangat pendek. Mereka tertipu, menggunakan kesehatan yang dimiliki untuk berbuat maksiat.
Demi Allah, di dunia mereka dicengkeram oleh hartanya – tak boleh begini dan begitu --, dan banyak orang yang dengki kepadanya.
Apa yang diperbuat oleh tanah dan kerikil kuburan terhadap tubuhnya? Apa pula yang diperbuat binatang-binatang tanah terhadap tulang dan anggota tubuhnya?
Dulu, di dunia mereka berada di tengah-tengah keluarga yang mengelilinginya. Diatas kasur yang empuk dan pembantu yang setia. Keluarga yang memuliakan dan kekasih yang menyertainya.
Tetapi ketika semuanya berlalu, dan maut datang memanggil, lihatlah betapa dekat kuburan dengan tempat tinggalnya. Tanyakan kepada orang kaya, apa yang tersisa dari kekayaannya? Tanyakan pula kepada orang fakir, apa yang tersisa dari kefakirannya?
Tanyalah mereka tentang lisan, yang sebelumnya mereka gunakan berbicara. Juga tentang mata yang mereka gunakan melihat hal-hal yang menyenangkan.
Tanyakan tentang kulit yang lembut dan wajah yang menawan serta tubuh yang indah... apa yang dilakukan cacing tanah terhadap itu semua? Warnanya pudar, dagingnya dikunyah-kunyah, wajahnya terlumuri tanah. Hilanglah keindahannya. Tulang meremuk, badan membusuk dan dagingnya pun tercabik-cabik.
Dimanakah para punggawa dan budak-budak? Dimana kawan... dimana simpanan harta benda? Demi Allah, mereka tidak membekali si mayit dengan kasur, bahkan tongkat untuk bertopang sekalipun. Dahulu dirumah mereka merasakan kenikmatan. Kini ia tenggelam dibawah benaman tanah.
Bukankah kini mereka tinggal ditempat yang lusuh dan menjijikan? Bukankah sama saja bagi mereka; siang dan malam? Bukankah sekarang mereka tenggelam dalam pekatnya kegelapan? Tak ada lagi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang tercinta.
Berapa banyak orang yang dulunya mulia, kini wajahnya hancur. anggota badannya tercerai berai. Mulut mereka belepotan dengan darah dan nanah. Binatang-binatang tanah mengerubuti jasad mereka, sehingga satu per satu anggota tubuh terlepas. Hingga akhirnya tak tersisa, kecuali hanya sebagian kecil saja.
Mereka telah meninggalkan istananya. Berpindah dari tempat lapang ke lubang yang sempit. Sesudah itu, istri-istri mereka dinikahi orang lain. Anak-anaknya pun berkeliaran dijalan. Harta bendanya dibagi-bagi oleh ahli warisnya.
Diantara mereka, ada pula yang dilapangkan kuburnya. Diberi kenikmatan dan bersenang-senang dengannya didalam kubur. Tetapi ada pula yang di adzab dalam sempitnya lubang kubur. Menyesali apa yang telah mereka kerjakan”. Umar lalu menangis dan berkata, “Wahai yang menjadi penghuni kubur esok hari, bagaimana dunia bisa menipumu? Dimana kafanmu... dimana minyak (wewangian untuk orang mati)mu, dan dimana dupamu? Bagaimana nanti ketika kamu telah berada dalam pelukan bumi.
Celakalah aku, dari bagian tubuh yang mana pertama kali cacing tanah itu melumatku? Celakalah aku, dalam keadaan bagaimana aku kelak bertemu dengan malaikat maut, saat ruhku meninggalkan dunia? Keputusan apakah yang akan diturunkan oleh Rabbku?”.
Ia menangis dan terus menangis, lalu pergi . Tak lebih dari satu pekan setelah itu, ia meninggal. Semoga ia dirahmati Allah.


Thursday, 12 July 2007

Sejarah Imam Ali AS ( Bagian 6 )

3- Kedermawanan

Imam Ali bin Abi Thalib as dikenal sebagai orang yang sangat dermawan bahkan di saat beliau sedang bergelut dengan kesulitan hidup sekalipun. Sering beliau memberikan makanannya kepada orang lain dan tidur dalam keadaan lapar. Perilaku Rasul yang sering mengganjalkan batu di perut beliau untuk menahan lapar karena lebih mementingkan orang lain, menjadi teladan baginya. Banyak Ayat Al-Quran yang turun memuji kedermawanan Imam Ali. Salah satu kisah termasyhur yang diabadikan oleh Al-Qur’an dan ditulis dengan tinta emas oleh para sejarawan adalah kisah turunnya surah Al-Insan.

Diriwayatkan bahwa suatu ketika, Imam Ali as dan keluarganya bernadzar akan berpuasa tiga hari setelah Allah memberikan kesembuhan kepada dua anaknya, Hasan dan Husein yang saat itu sedang sakit. Setelah keduanya sembuh, Imam Ali melaksanakan nadzar itu. Beliau bersama istri, dua anak dan bahkan pembantunya yang bernama Fidldlah menjalankan ibadah puasa tiga hari. Saat itu di rumah beliau hanya ada persediaan makanan yang sangat terbatas.

Hari pertama, ketika hendak berbuka puasa, seseorang mengetuk pintu rumah beliau. Imam Ali membuka pintu. Setelah mengucapkan salam, orang tersebut mengatakan bahwa dia adalah orang miskin yang sedang kelaparan. Mendengar penuturannya, Ali as memerintahkan untuk memberikan makanan yang telah tersedia kepada si miskin. Malam itu keluarga beliau hanya cukup berbuka dengan air.

Kejadian serupa terulang lagi. Pada hari kedua seorang anak yatim dan hari ketiga seorang tawanan datang meminta sekedah kepada keluarga suci ini. Imam Ali memberikan makanan itu kepada mereka. Kedermawanan Ali dan keluarganya ini di saat mereka sedang memerlukan, dipuji oleh Allah swt. Surat Al-Insan atau Ad-Dahr turun berkenaan dengan peristiwa ini.

Saat seorang pengemis meminta sekedah kepada orang-orang yang sedang berada di masjid Nabi, tidak ada seorang pun yang menaruh perhatian kepadanya. Ali yang sedang menunaikan salat sunnah di masjid, saat ruku’ mengulurkan tangannya kepada si peminta sedekah. Orang tersebut lantas mengambil cincin yang ada di jari Imam dan pergi meninggalkan masjid. Kejadian itu direkam dalam Al-Qur’an Al-Karim. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya pemimpin kalian adalah Allah, Rasul dan orang yang beriman yang menunaikan salat dan membayar zakat saat sedang ruku’.”

Mengenai kedermawanan beliau, Muawiyah yang dikenal sebagai musuh Ali nomor satu, mengatakan, “Jika Ali memiliki dua buah rumah yang satu terbuat dari emas dan yang satu lagi terbuat dari kayu, dia akan bersedekah dengan rumah emas itu sampai tidak tersisa sedikit pun darinya.”

4- Kezuduhan

Keutamaan lain Imam Ali as adalah kezuhudan beliau. Sering Imam Ali menyatakan bahwa dirinya tidak akan bisa digoda oleh kemewahan dunia. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Imam Ali mengatakan, “Wahai dunia, godalah orang selain aku. Aku telah menceraimu dengan tiga kali talak. Tidak mungkin engkau akan kembali kepadaku. Umurmu terlalu singkat dan kehidupanmu hina.”

Menu makanan Imam Ali setiap harinya hanya sekerat roti kering dengan garam atau cuka. Beliau tidak pernah membiarkan perutnya dipenuhi makanan atau minuman. Pakaian yang beliau kenakan terbuat dari kain kasar. Meski duduk sebagai khalifah dan memegang seluruh kekayaan negara atau baitul mal beliau tidak pernah tergoda oleh gemerlap dinar yang ada di dalamnya. Diceritakan bahwa ketika menghitung uang baitul mal untuk dibagikan kepada rakyat, beliau bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur karena tidak tergoda oleh harta yang ada di hadapannya.

Suatu kali, ketika Ali mengerahkan pasukan ke Basrah untuk memadamkan fitnah perang Jamal, sekelompok jemaah haji mendirikan kemah di dekat kemah pasukan beliau. Mereka ingin bertemu dengan khalifah. Ibnu Abbas yang meruapakan salah seorang sahabat dan murid dekat Imam Ali bergegas memberitahu beliau. Saat itu Imam sedang menjahit sepatunya. Setelah selesai, sambil menunjuk ke arah sepatu itu, beliau bertanya kepada Ibnu Abbas, berapa harga sepasang sepatu ini?

Ibnu Abbas menjawab harga sepatu yang sudah kumal seperti ini tidak lebih dari setengah Dirham. Imam Ali as mengatakan, “Demi Allah, sepatu ini jauh lebih berharga bagiku dibanding jabatan khilafah, kecuali jika dengan khilafah ini aku dapat menegakkan keadilan dan menumpas kebatilan.”

5- Taqwa dan Keimanan yang Tinggi

Imam Ali bin Abi Thalib as juga dikenal sebagai orang yang banyak beribadah. Malam hari merupakan saat yang paling indah bagi beliau untuk bermunajat dan berkeluh kesah dengan Tuhannya. Ketika sedang menunaikan salat tidak ada apa pun yang dilihatnya kecuali kemuliaan dan keagungan Allah swt. Diceritakan bahwa pada suatu malam di saat perang Shiffin berkecamuk, Imam Ali as tenggelam dalam kekhusyukan ibadah. Mendadak sebuah panah menerjang dan menancap di kaki beliau. Sahabat beliau yang menyaksikan kejadian itu, menarik anak panah tersebut ketika Imam sedang dalam keadaan salat. Karena kekhusyukannya, Imam Ali tidak merasakan sakit saat anak panah itu menancap kemudian dicabut dari kakinya.

Munajat dan doa-doa yang diajarkan Imam Ali kepada para sahabatnya telah dibadaikan dalam buku-buku riwayat Islam. Doa-doa itu mengandung makna yang sangat dalam dan mengajarkan bagaimana tata krama dan cara seorang hamba berdoa dan bermunajat dengan sang Khaliq. Imam Ali juga mengajarkan bagaimana hendaknya seorang pecinta sejati melantunkan pujian kepada Tuhannya. Bahkan Imam Ali Zainal Abidin yang sepanjang sejarah dikenal sebagai orang yang paling banyak beribadah mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang bisa menandingi ibadah Ali bin Abi Thalib as.”