Tuesday, 21 January 2014

Kuda lumping perspektif

Beberapa waktu silam disebuah grup rame dibahas peran ibu yg bekerja sebagai PNS disebuah lembaga pemerintahan, juga membaca dibeberapa forum internet dan tidak hanya itu, dibeberapa blog personal juga sudah banyak dibahas mengenai hal tersebut. Pembahasan mengenai peran seorang ibu yg bekerja sebagai PNS memang banyak pembahasannya.... dan sebenarnya apa yg saya tulis ini hanya perspektif saya saja. Tiada maksud merendahkan para kaum wanita atau ibu yg bekerja ataupun tiada maksud merendahkan wanita2 yg tidak bekerja dan hanya mengasuh anak dirumah.
Kuda lumping perspektif, menjadi judul untuk mewakili ke-egois-an saya dalam berpendapat. Karena tiada dasar apapun dalam saya berpendapat selain pemikiran dari ilmu pribadi yg sempit akan pengetahuan yg maha luas ini. Kuda lumping perspektif, sebuah wakil pemikiran yg tidak mewakili objek utamanya dalam hal ini si-Kuda. Jika anda mengetahui kesenian kuda lumping, maka anda tahu bahwa walaupun kuda itu memiliki mata namun tidak dipergunakan, semua diarahkan dan digerakkan oleh orang yg menaiki kuda tersebut... hal ini karena yg melihat adalah yg menaiki kuda lumping :)
Jadi, saya sangat berharap tulisan ini tidak menjadi dasar argumen para pembaca dengan alasan apapun. Jika ada benarnya, sesungguhnya Allah lah yg menggerakkan tangan dan otak ini dalam menulis. Dan sesungguhnya banyak kesalahan dalam penulisan ini, dan itu semua adalah karena saya pribadi yg ilmu pengetahuan sangat amat terbatas.
Saya ingin berpendapat mengenai Wanita/Ibu yg bekerja PNS dan lebih mengutamakan Mengasuh bayi/anaknya diatas pekerjaannya menjalankan amanah negara. Banyak pendapat mengenai hal tersebut, yg kebanyakan membela ibu-ibu PNS untuk mengutamakan mengasuh anak diatas pekerjaannya dan tentu ini memiliki dasar dan argumen yg cukup kuat misalnya:
1. Kebahagian terbesar seorang ibu adalah melihat perkembangan tumbuh anak. Bagaimana bisa melihat itu kalau harus berangkat habis subuh dan pulang setelah isya?
2. Melihat senyuman anak dan mengarahkan pendidikan anak adalah hal yg didamba setelah memiliki anak, mengantar kesekolah, menjemput sekolah memiliki kesan yg tiada dapat diungkapkan... Dan, bagaimana itu bisa dilakukan jika harus tiba dikantor sebelum 7.30 dan pulang dari kantor setelah 16.30?
3. Walaupun memiliki baby sitter, tetap kehangatan memeluk anak, mengarahkan saat menonton tv, bermain dihalaman rumah, bermanja-manja dikasur merupakan penghilangan penat dan penambah energi paling manjur dibandingkan obat energi ataupun minum kopi sebanyak apapun. Jadi, itu tidak bisa digantikan dengan uang berapa jutapun.
4. Sarapan sambil bercakap dengan anak, salim saat diantar kesekolah, mendengar tangis dan aduannya, berjalan bergandengan tangan dikampung, mengajak bertemu dengan teman baru tidak dapat digantikan dengan kegiatan jalan-jalan dipantai ataupun taman rekreasi di akhir pekan sebulan sekalipun!

Dan, tentu masih banyak hal positif lainnya bagaimana hubungan antara seorang anak dgn orang tua, kepada seorang ibu pada khususnya. Mau dilihat dari sisi manapun, hubungan ibu dan anak akan selalu positif! Pendidikan, kesehatan, pertumbuhan, sosialisasi, karakter dan lain sebagainya...
Namun....
...
...
...
Saya tidak menghalangi bagi kaum wanita untuk bekerja, ataupun menyalurkan ilmu dan bakatnya dengan bekerja. Saya juga mendukung bagi kaum wanita untuk mengabdi kepada negara, namun tentu asalkan tugas utama sebagai seorang ibu dan suami terpenuhi sebelumnya. Bagi saya sederhana bagaimana menilai tugasnya seorang ibu ataupun seorang istri terpenuhi, yaitu rumah terawat, anak-anak berkarakter dan sehat, suami nyaman saat pulang bekerja. Jika itu semua dapat terpenuhi, maka berkarier, berkarya mengabdi kepada negara, bekerja ataupun aktivitas lainnya fine-fine saja menurut saya.

Yang menjadi concern saya adalah seorang ibu yg memilih untuk bekerja sebagai PNS namun lebih mengutamakan keluarganya diatas kepentingan pekerjaan/negara. Ini, menurut saya pribadi ga ok banget. Walaupun saya disuguhi berbagai alasan yg jauh lebih baik daripada yg saya sampaikan diatas! Selama dia lebih mengutamakan keluarganya daripada pekerjaan/negara maka alasannya tertolak. Mengapa saya keukeuh bahwa alasan apapun tertolak, hal ini dikarenakan:

"Bekerja sebagai PNS dan mengasuh anak/menjadi ibu rumah tangga adalah PILIHAN. Jika diri ini sudah memilih untuk menjadi PNS, maka harus mengikuti semua aturan sebagai PNS! jika tidak sanggup, dan lebih memilih mengasuh anak/alasan rumah lainnya maka sebaiknya jangan menjadi PNS. Bekerjalah menjadi wiraswasta, di bekerja diswasta yang aturannya bisa sesuai kemauan pribadi."

Alasan apapun akan tertolak, karena aturan dalam PNS itu jelas, masuk 7.30 dan pulang 16.30, semua itu ada peraturannya dan tertulis dengan jelas. Jika tidak sanggup menjalankan hal kecil itu, maka bagaimana akan menjalankan kewajiban lainnya? Jika tidak mau diatur seperti itu, dan ingin aturan yg sesuai kondisi rumah. Maka, jangan jadi PNS! ber-wiraswasta atau bekerja selain PNS. Jangan korbankan kepentingan amanah rakyat dengan kepentingan pribadi dong.
Ada juga kejadian, penggunaan uang/fasilitas negara untuk misalkan pendidikan anak, kesehatan anak, rekreasi keluarga dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Yang saya maksud disini adalah diluar gaji resmi PNS. Banyak mengada-adakan kegiatan fiktif yg nanti uangnya dipergunakan untuk kepentingan keluarga pribadi. Jika sudah mengerti gaji PNS itu kecil dan tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup, jangan jadi PNS dong. Jangan paksakan membeli mobil dengan uang fiktif mengambil dari APBN, cari pekerjaan diluar PNS yg tidak mengganggu jam kerja PNS jika masih tidak sanggup meninggalkan PNS! jangan menyalahkan negara, dengan mengatakan gaji kecil tapi saat buka lowongan PNS anda menghalalkan segala cara untuk menjadi PNS!
Ada hal menarik yang dapat mungkin menjadi contoh terkait penggunaan uang APBN, misalkan pada acara peluncuran Buku oleh presiden RI. Saya sebagai rakyat biasa menjadi bingung, apakah itu buku pribadi seorang susilo bambang yudhoyono (SBY) ataukah buku presiden RI? dengan peluncuran semeriah itu, apakah menggunakan anggaran APBN atau menggunakan uang pribadi SBY? dan akan muncul banyak ekor pertanyaan yg lain...

Jadi, bagi kaum wanita atau para ibu. Mohon, jika memang tidak mampu untuk meninggalkan kepentingan pribadi menjalankan tugas rumah, janganlah mendaftar menjadi PNS, apalagi ngoyo menghalalkan berbagai cara untuk menjadi PNS. Anda nantinya jika datang siang, menggunakan uang APBN untuk kepentingan pribadi dan hal-hal lainnya... maka anda telah mendzolimi rakyat yg menggaji anda untuk bekerja. Biarkanlah para bapak/suami bekerja dan anda mendidik anak2 untuk menjadi penerus bangsa dan dakwah islam ini. Mendidik anak2 berkarakter yg memiliki idealisme membangun bangsa dan berdakwah untuk islam.
Mohon maaf, jika anda sudah menjadi PNS dan lebih mengutamakan keluarga diatas kepentingan rakyat, maka segeralah ber muhasabah, dan segera ambil keputusan terbaik menurut yg Islam ajarkan. Jangan sampai keberadaan anda sebagai PNS mencederai amanah rakyat.
Post a Comment