Sunday, 13 February 2011

catatan ainun pada habibie&ainun : page 39


Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya berpikir: buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya  anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu.

Lama merenung saya membaca bait tulisan ini, betapa saya berharap memiliki sosok wanita pendamping seperti bu Ainun. Pendamping saya kelak semoga bisa lebih baik dari beliau dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada. Saya juga bersyukur karena bisa hidup berkecukupan hingga tulisan ini dibuat, dan berharap kelak saya dapat menjadi sosok suami seperti pak Habibie yang begitu bertanggung jawab terhadap keluarganya, betapa beliau bekerja dengan gigih semua demi keluarganya.

Seorang S3 yg masih saja naik bis untuk bekerja, berjalan 15 Km untuk menghemat uang demi keluarganya, atau bersepeda ke tempat bekerja,,, menolak tawaran menggiurkan dari boeing demi kembali ke Indonesia untuk membangun negerinya.

Terenyuh saya dibuatnya, beliau begitu gigih dimasa mudanya, sedangkan saya hanya sibuk membalas komen2 di facebook dan menonton bioskop.... ckckck

 * yuk belajar... yuk membaca... yuk tingkatkan kompetensi diri... yuk kita bangkit...

Post a Comment