Tuesday, 3 September 2013

Kuantitas pertemuan VS Psikologi dan kesehatan anak



Foto diatas adalah keponakan saya, yang beberapa hari ini sedang diuji sedang sakit.
Ada hal menarik dibalik sakitnya sikecil kafil ini, entah apakah ini berkorelasi atau tidak tapi kejadian ini juga sepertinya ada yg pernah terjadi seperti yg pernah diceritakan mbah kung dijogja dulu.


Alkisah sewaktu saya kuliah dijogja dulu... saya sering diajak mbah kung mengobrol di dapur.. biasanya sekalian sarapan ataupun makan siang, karena kalau makan malam dilakukan di ruang makan :)
Dalam suatu hari, diceritakanlah mengenai cucunya yang mana cucunya itu sewaktu kecil sangat amatlah lengket alias dekat sekali dengan mbah kung. Dalam hal apa saja selalu mbah kung yg disebut dan saat bangun tidur pun tidak akan bicara dengan yg lain sebelum menyapa mbah kung. hehehe keren banget deh ceritanya itu.

Nah, ada waktu dimana mbah kung saat itu masih mengajar di STM. Harus pergi jauh dari cucunya itu, mbah kung diharuskan mengikuti diklat diBandung. Singkat cerita, pergilah mbah kung untuk diklat ke Bandung. Disinilah efeknya terasa, setelah beberapa hari ditinggal mbah kung diklat... si cucunya itu mulai demam dan sakit berkepanjangan... makan ga mau, main keluar rumah ga mau... ngomong cerita sama orang-orang ga mau. Mendengar cucunya sakit dan berperilaku seperti itu, maka mbah kung memutuskan untuk ijin diklat dan pulag untuk menjenguk cucunya di jogja.

Dan, keajaiban itupun datang saat mbah kung sampai dijogja. Entah bagaimana, si cucunya itu kembali ceria dan sehat kembali. Hal ini merupakan sesuatu yang diluar nalar, tapi benar-benar terjadi. 
Kemudian, hal serupa juga terjadi kepada keponakan saya baru-baru ini. Ceritanya kurang lebih begini, sejak awal bulan setelah liburan lebaran ini adik ipar saya lembur terus kerjanya, sudah hampir 2 minggu dia berangkat sebelum anaknya bangun dan pulang setelah di kafil tertidur. Jadi, bisa dikatakan sikafil ini hampir tidak pernah ketemu ayahnya pada hari kerja normal senin sampai sabtu dikarenakan ayahnya yg lembur kerja.

Dan terjadilah, beberapa hari kemarin dia sakit demam, batuk2 sampai badannya lemas. Main ga mau, bicara ga mau, bahkan makannya pun jadi susah. Dengan kejadian itupun, adik ipar saya terpaksa untuk minta ijin tidak kerja karena harus memeriksakan anaknya ke rumah sakit.

Hal yang mungkin dapat menjadi ibrah dari peristiwa ini adalah, bahwa pertemuan dengan anak kecil yg polos itu tidak hanya kualitas pertemuan namun juga kuantitas pertemuan itu teramat sangat penting bagi mereka. Walaupun saya tidak begitu tau apakah kejadian banyaknya pertemuan antara anak dengan ayahnya ataupun cucu dengan mbah kung saling terkait dengan psikologis dan kesehatan si cucu dan sianak. Namun, dari cerita yang saya dapat dan kejadian yg saya perhatikan sepertinya kuantitas pertemuan antara ayah dan anak, ataupun cucu dan mbah kung itu memang penting adanya :) semoga kita semua dapat mengambil manfaatnya....



Post a Comment