Saturday, 1 September 2012

Kisah dari desa...

Berasal dari sebuah desa kecil diutara Jawa Tengah, disanalah ibu saya dilahirkan... juga saya dan dua orang adik saya pertama kali melihat dunia. Carilah di Google maps, Desa Besito... Gebog, Kudus - Jawa Tengah... hehehe semoga masih ada ya :p
Alhmdulillah lebaran tahun ini ada kesempatan kembali menengok kampung halaman, kembali menjalin silaturahmi yg telah lama tidak terjalin dengan keluarga besar ibu. Pertemuan dengen sanak family sungguh mengharukan bagi ibu, apalagi pasca meninggalnya bapak beberapa tahun yg lalu. Kehangatan sungguh terasa diberikan sanak family disana... menyenangkan saat-saat itu terasa seperti hidup ini itu tidak sendiri dan sepi :)
Semoga yg membaca blog ini juga dapat merasakan kehangatan keluarga saat lebaran dan juga hari-hari selanjutnya, dipanjangkan umurnya untuk dapat bertemu dengan ramadhan dan idul fitri ditahun mendatang dengan penuh keberkahan dan tetap terjaga kesuciannya :)
Kembali kecerita desa saya, Besito tempat saya dilahirkan. Saya memang tidak lama hidup menetap disana, kurang lebih 5tahun dari sejak saya dilahirkan... yang berarti umur hampir 6tahun saya pindah domisili ke Cibinong, Bogor-Jawa barat tempat saya menetap dan mencari nafkah saat ini. Alhamdulillah diumur saya masih balita itu, saya sempat bermain-main keberbagai pelosok besito dan memperhatikan bagaimana kondisi desa saya... dan alhamdulillah Allah memberikan ingatan yg cerah masa-masa itu disaat ini.

Banyak perubahan bagaimana kondisi didesa saya, dari cara pandang dan filosofi hidup mereka, kondisi ekonomi, juga bermasyarakat.
Saya coba akan sampaikan dari cara pandang dan filosofi hidup disana, mungkin ini juga terjadi diberbagai desa tidak hanya didesa saya. Banyak teman-teman permainan kecil saya, juga tetangga-tetangga saya yg telah banyak perubahan cara pandangnya... terutama mungkin ini karena banyak dari mereka yg sudah mengenal dan bekerja dijakarta/surabaya dan membawa pola kota tersebut kedesa tanpa melakukan filter terlebih dahulu.
Pola dan pandangan hidup hedonisme dan sekularisme sungguh sangat kental terasa sekarang didesa saya, terutama dibawa oleh para pemuda umur 35 kebawah, saya merasakan pola itu saat tradisi berkunjung/bertamu ketetangga disaat hari fitri. Disela-sela obrolan, saya sering memancing/bertanya mengenai pandangan mereka tinggal didesa dan harapannya kedepan seperti apa, juga saya memperhatikan pola tata kesopanan mereka terhadap tamu yg datang.
Banyak dari pemuda yg beranggapan hingar bingar kota seharusnya dibawa kedesa, cafe malam, kebebasan -lebih keblablasan- berekspresi,  dan sikap egoisme sungguh terasa saya bisa rasakan. Cukup mengagetkan bagi saya jika dibandingkan dengan kisah dimasa kecil saya, tidak pernah menemukan ada pemuda yg nongkrong dipinggir jalan merokok, berpangku antara cewe dan cowo, main kartu remi, ketawa cekikikan ditengah malam, memutar musik dengan keras dirumah, atau memutar musik dari handphone dipinggir jalan dengan keras...juga hal-hal negatif yg lainnya yang biasanya saya temukan di Jakarta hampir ada semua didesa saat ini.
Dan hampir semua itu saya temukan dimalam yg fitri selama tiga hari saya disana. Sungguh ini hal yg sangat mengagetkan bagi saya! Walaupun sanak family dari ibu alhamdulillah tidak ada yg terlibat dan mengikutinya,,, namun sampai kapan mereka bertahan? bukankah jika bergaul dengan penjual parfum akan ikut bau wanginya, dan jika bergaul dengan pandai besi juga akan ikut bau besi terbakar?
Dulu masih ingat sekali, jika ada tamu datang maka akan disambut dengan penuh kehangatan... disapa, ditemani ngobrol, ditatap dengan penuh senyum dan memunculkan perasaan nyaman saat bertamu. Sehingga walaupun cuma disuguhi air putih dan singkong bakar pun terasa enak aja bertamu. Perlakuan itu masih terasa jika saya bertamu dengan orang-orang tua, terutama teman2 sepantaran ibu atau bapak. Tapi, jangan berharap jika dengan para pemudanya... mereka akan sibuk dengan hapenya, menyalakan TV, memutar musik atau malah dia mempersilahkan masuk tapi dia sendiri keluar untuk mencari orang tuanya dan setelah itu pergi nongkrong didepan rumah atau dipinggir jalan!! Sehingga, walaupun disuguhi dengan makanan mahal dan enak yg dibeli dari mall-mall yang terkenal dijakarta tetap membuat saya dan ibu merasa tidak nyaman dan akhirnya cepat2 ingin pamitan pulang kembali.
Jujur, sekarang jarang terdengar suara anak-anak mengaji dimushola/masjid yg diperdengarkan keseluruh desa... beda sekali dengan masa saya kecil dulu. Dan kalaupun ada yg mengaji, akan kalah dengan suara musik2 gaol, alay, dangdut pinggiran yg disetel dengan subwoofer hifi dari masing-masing rumah. Miris sekali melihatnya, apalagi saat itu dihari fitri! tidak terbayang bagaimana jika hari normalnya?!
Itu sekilas dan tidak semua jika dilihat dari cara pandang pemuda-pemuda didesa. Kemudian bagaimana dengan kondisi ekonominya? Saya juga cukup kaget dengan apa yg terjadi disana. Memang masih banyak rumah-rumah yg dibangun dari papan, beratap rumbi2, atau dindingnya masih separo tembok dan separo gedek -FYI, anyaman bambu-, lantai rumah masih tanah atau katakanlah plesteran semen, dan kalaupun rumah sudah bertembok semua tetap saja masih belum difinishing. Gaya rumah seperti itu bukan karena mereka tidak ada dana untuk membangun dan mempercantik rumah mereka, namun pola pandang ekonomi saat ini sudah berubah dibandingkan saya kecil dulu.
Saya masih ingat yg dikatakan bapak dan juga sanak family saya dulu mengenai rumah ini, dimana dulu mereka berusaha bagaimana agar rumah tempat tinggal itu dibuat sekokoh mungkin, aman, nyaman dan dihias seindah mungkin... baru setelah itu memikirkan isinya seperti TV, Motor, dan furniture lainnya. TIDAK dengan sekarang ini, banyak yg berfikir cukup bangun rumah apa adanya asalkan kalo hujan ga kebasahan/kebanjiran dan kalo musim panas tidak kepanasan, THAT'S ALL. Mereka lebih mementingkan isi didalam rumahnya! Jadi jangan heran jika ada rumah gedek reyot tapi punya LCD TV 32', ada 3 motor keluaran terbaru parkir diruang keluarga, ada DVD player dengan subwoofer besar disampingnya! walaupun semua itu dibeli dengan KREDIT!!!
Banyak dari mereka memiliki barang2 keluaran terbaru, saya sampai geleng2 banyak sekali anak2 membawa motor keluaran terbaru dijalanan desa disaat saya baru bisa nyicil motor setelah nabung 2 tahun saat kerja di BIG! Dulu saya harus kekota untuk mencari mesin ATM, sekarang naik sepeda ga sampe 10 menit aja dan nemu ATM! Pasar tradisional memang masih ada di besito, tapi klo kita ke kios permanen disamping pasar tersebut yg dibangun dengan gaya kios2 di kelapa gading, maka akan kaget dimana sudah banyak yg transaksi dengan kartu kredit! Kepasar dengan memakai kaca mata gaol yg besar, bawa BB-China sih-, celana jeans pendek diatas lulut dan membayar dengan cukup menggesek kartu... mungkin mereka lupa klo sekarang lagi pulang kedesa kali ya?! Saya kepasar itu saat ingin mencari tiket bis untuk pulang kecibinong, yg ternyata agenny cuma bermodal meja dan kursi dipinggir jalan seperti penjual pulsa, tapi bawa hapenya ga tanggung-tanggung 5 sekaligus :)) yg klo tak perhatikan sebagian hapenya dual sim, jadi bisa jadi dia punya 8 nomor tuh... saya saja yg punya 1 hape bingung ngatur pengeluaran pulsanya tiap bulan :(
Kemudian bagaimana dari sisi bermasyarakat? ini juga unik. Kita tentu masih ingat -terutama jika sekolah dipulau jawa ya...- bagaimana guru menyampaikan bahwa orang desa itu hidup bermasyarakatnya sangat cool, terutama saat membangun rumah dan ditanya alamat rumah seseorang! kok bisa?! iya bisa karena dulu bapak bercerita bahwa saat membangun rumah -dibangun thn 1984- cuma bermodal uang 150.000! yah anggaplah jika dikonversi ketahun sekarang di kali 100, maka mungkin modalnya adalah 15.000.000 ya? -yg ahli ekonomi coba diperbaiki ya- lalu saya tanya kok bisa pak? bisa, karena tetangga saling membantu... jika ada yg punya kayu mereka memberikan kayu, jika punya kebun bambu maka mereka memberikan bambu, jika punya tenaga maka mereka datang membantu dan ga dibayar! cuma diberi makan 3x sehari untuk keluarganya, jika punya sisa genteng mereka memberikan genteng itu! dan semua itu free, ikhlas mereka semua! makanya bapak bilang bahwa rumah saya itu sebenernya bukan bapak yg bangun, tapi warga besito yg bangun rumah itu.. Subhanallah.
Sekarang? jangankan gotong royong membantu rumah, minta tolong mengangkut pasir aja ada perhitungannya! pompa ban motor ada hitungannya! rasa gotong royong itu mulai pudar dari para pemuda... entah kenapa mereka begitu, apakah karena pendidikan keluarga yang kurang? efek televisi? efek bekerja di jakarta? atau hal-hal lainnya? Bagaimana dengan poin saat ditanya alamat? sudah sangat sedikit saya temukan pemuda yg saling mengenal tetangganya, dan ini mengakibatkan saat ditanya alamat mereka akan jawab dengan acuh "tidak tau mas" atau malah ngarang suruh tanya orang lain... beda dengan saat ditanyakan ke orang yg sudah tua, kita sebut satu nama saja mereka akan mengantarkan tidak cuma memberi tahu alamatnya! dan sepanjang jalan mereka bisa juga menceritakan silsilah keluarga orang itu! mantap!!! padahal mereka tidak berhubungan keluarga dan tinggal jauh satu sama lainnya!

Itulah sekelumit cerita yang saya dapatkan saat mudik kemarin, semoga bagi warga/pejabat besito yg membaca ini bisa menjadi masukan untuk perbaikan dimasa mendatang. Saya tidak anti modernisasi, namun tata nilai kebaikan yg pernah ada sebaiknya tidak dirusak oleh budaya barat hasil mencontoh di TV ataupun karena pergaulan di Kota metropolitan, saya juga tidak melarang bekerja kejakarta, tapi tau mana yang baik dan buruk untuk dibawa kedesa adalah lebih bijaksana. :)
Semoga pendidikan dan kegiatan keagamaan dibesito kembali digalakkan, sebab agama Islam lah yg akan menjadi filter dan menjaga nilai-nilai kebaikan dan keberkahan besito kedepannya :)
Semua ini sebagai introspeksi bagi saya pribadi, jika ada yg berasal dari besito dan ternyata saya salah dalam menyampaikan, mohon koreksinya... semua kekurangan dan kesalahan itu seluruhnya dari saya, dan yg benar itu milik Allah semata,,,, mari bangun kembali BESITO tercinta.


Post a Comment