Thursday, 25 July 2013

Sampaikanlah dengan hikmah dan santun

Semalam mendapatkan mosaik kisah yang pada saat sekolah dasar dulu itu saya anggap sebagai cerita atau bahkan hanya sekedar mitos belaka.

Pada masa zaman saya sekolah dasar dulu *ceile kek dah lama bangeeeeeet aja* saya sering diceritakan mengenai bagaimana perbedaan antara kubu nahdatul ulama dengan kubu muhammdiyah. Yang karena perbedaan itu sampai2 ada masjid khusus antara 2 kubu tersebut, sampai2 dicirikan jamaah kedua kubu tersebut.

Dulu saya masih ingat, kalau ada masjid yang adzan 2x saat shalat jumat, maka itu masjid nahdatul ulama. Kalo ada imam yang shalat subuh ga pake qunut, pasti itu masjid dan jamaah muhammdiyah. Dan karena perbedaan tersebut tidak sekedar sampai disitu, bahkan diceritakan bahwa hal tersebut bahkan sampai pada pertengkaran dan perpecahan umat pada zaman saya sekolah dasar.

Pada masa sekolah dasar itu, saya masih sulit percaya. Saya anggap cerita itu seperti layaknya cerita malin kundang, sebuah mitos yang dibesar-besarkan saja. Saat itu saya melihat, semua orang islam sama saja dan karena saya tinggal diBogor maka tidak terlalu kelihatan perbedaan itu. Saat itu juga saya kalau shalat subuh bersama bapak menggunakan qunut, namun kalau berjamaah di pesantren dekat rumah tidak menggunakan qunut. Dan itu biasa saja, tidak ada pertengkaran.

Cuma entah kenapa semalam saat shalat tarawih berjamaah kok ya terjadi pertengkaran didalam masjid yang disebabkan karena masalah sepele. Hal yg saat kecil dulu saya anggap mitos, malah terpampang dihadapan.

Pemicu kejadian semalam itu sangat sederhana sekali. Kejadian bermula pada sehari yang lalu saat pembicara kultum tarawih memperbolehkannya dzikir berjamaah dan dengan suara keras bada shalat fardhu, tentu dengan berbagai alasan. Kemudian ternyata semalam jamaah yang paling tua dimasjid menjadi pengisi kultum, yang ternyata berbeda pendapat dengan pembicara sebelumnya. Tentu dengan argumen dan dalil2 yang menurut beliau kuat. Dengan pembawaan yang keras dan berapi-api dia mengkritik habis materi kultum sehari sebelumnya.

Dan terjadilah perang argumen yg berakhir perkelahian, karena para pembicara kultum saling berdebat dimuka umum diantara jamaah shalat tarawih. Sungguh menyedihkan dan membuat kaget para jamaah.

Saya tidak akan membicarakan lebih detail perkelahian yang terjadi. Tapi ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil, dan juga sebagai masukan bagi pembaca.

1. Saat menjadi pembicara didepan jamaah atau orang banyak. Sampaikan dengan santun dan tidak terbawa emosi. Sebab, walaupun apa yg kita sampaikan adalah kebenaran namun dengan cara yang kasar dan salah... Maka kebenaran itu akan tertolak.
2. Sebagai pendengar, ataupun yang dikritisi. Akan lebih santun jika ingin membantah atau membela diri tidak didepan jamaah. Sampaikan argumen atau pendapat anda secara langsung kepada pengkritik atau pemberi masukan. Dengan begitu kesatuan dan persatuan umat tetap terjaga.
3. Sebagai jamaah yang baik, jika terjadi kejadian seperti diatas. Bukan malah menambah kisruh dengan berteriak-teriak dan memanas-manasi antar orang yang berselisih. Pisahkan mereka dengan santun, atau jika tidak berani maka diamlah.

Saya pikir 3 hal itu bisa menjadi muhasabah dan renungan untuk kita agar tidak terjadi perpecahan diantara umat islam.

Sent from my HTC


Post a Comment